Cara Memilih Mainan untuk Anak Autism

Bermain dengan anak autism bisa jadi lebih menantang dibanding bermain dengan anak yang non-autism. Selain itu, permainan juga perlu dipilih yang bisa memberikan kesenangan bagi anak, sekaligus membantu mereka untuk mengembangkan kepribadian dan melenturkan syaraf-syarafnya.

Berikut ini beberapa tips tentang cara memilih mainan yang sesuai untuk anak autism:

1. Carilah mainan yang bisa menstimulasi sistem syarafnya. Banyak anak autism yang punya masalah dalam sistem sensornya. Mainan bisa menjadi cara yang sempurna untuk mengajari mereka cara merasakan sesuatu, tanpa membuat mereka menjadi ketakutan.

Mereka tidak harus memakai, membawa, memakan, atau mendengarkan mainan tersebut jika memang tidak menginginkannya, dan bisa menjadi sebuah kebahagiaan yang besar jika mereka mau mencoba dengan sendirinya, disaat yang mereka inginkan.

Mainan-mainan yang cocok untuk tujuan ini mungkin antara lain:

  • Buku-buku yang ditempeli dengan kain, kertas, benang, dan lain-lain. Anda bahkan bisa membutnya sendiri.
  • Balok-balok yang berbentuk angka atau huruf (ini juga cocok untuk mengajari mereka tentang urutan.)
  • Mainan dengan lekukan, bulu, susunan, dan lain-lain.
  • Alat musik mainan dan mainan yang bisa mengeluarkan suara.
  • Buku dengan kertas yang keras untuk anak-anak yang suka merobek - membuat mereka bisa merobek kertas pembungkus sebanyak yang mereka mau.

2. Pilihlah mainan yang bisa membantu mereka untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi. Mengajari anak-anak untuk bekerja sama melalui mainan adalah ritual yang penting untuk perkembangannya. Bagi anak autism, interaksi sosial melalui mainan akan menjadi lebih penting lagi untuk membantu mereka berinteraksi dengan orang lain.

Papan permainan sangat sempurna untuk tujuan ini, terutama saat seluruh keluarga ikut bermain. Fokuskan terutama pada masalah giliran dan melatih kesabaran. Semua anak perlu belajar mengenai skill ini, tapi unsur frustasi bisa menjadi sangat intense bagi anak autism.

3. Carilah mainan yang bisa membantu anak autism untuk mengembangkan kemampuannya dalam bergerak. Sama seperti anak-anak lainnya, tapi pada anak autism anda mungkin harus menghadapi penolakan, ketidak mampuan untuk menjaga keseimbangan, rasa takut, dan lain-lain.

Melukis dan menggambar adalah pilihan yang bagus, meski melukis akan membuat anak autism menjadi kesal jika mengotori tubuhanya. Jadi mungkin akan lebih baik jika menggunakan kuas dari pada jari.

Mengembangkan kemampuan dalam menjaga keseimbangan mungkin akan menjadi sulit jika anak menolak untuk bermain dengan sepeda roda tiga. Dorongan dan kesabaran akan sangat dibutuhkan, juga pemahaman.

4. Selalu pertimbangkan level dari anak autism. Mainan yang tidak rumit akan jauh lebih baik untuk anak autism dengan fungsi level yang rendah. Untuk anak autism dengan fungsi yang lebih tinggi, maka mainan yang cocok mungkin adalah mainan yang mengharuskan mereka untuk membangun, membuat, mencari, menghubungkan, dan lain-lain.

Bagi sebagian anak autism yang menunjukkan ketertarikan yang sangat jelas pada sesuatu, anda bisa memberikan mainan yang merefleksikan ketertarikan ini. Ini akan membuat mereka sangat tertarik.

Satu-satunya resiko disini adalah bahwa mereka bisa jadi terlalu bergantung pada satu ketertarikan dan tidak merasa tertantang untuk mencoba bidang lain yang kurang diminatinya.

5. Jangan terlalu memaksakan fungsi dari bermain. Ada waktu-waktunya untuk membiarkan mereka menikmati mainan seperti yang mereka inginkan. Kesulitan muncul saat mereka lebih suka dengan cara ini, jadi berikan perhatian terhadap kecenderungan ini.

6. Utamakan kualitas dibanding kuantitas. Terlalu banyak mainan akan selalu berakibat kurang baik. Untuk anak autism, itu membuat mereka merasa kewalahan dan bingung.

Lebih baik pilihlah mainan yang berkulitas meski dengan kuantitas yang lebih sedikit daripada memilih mainan dengan harga yang murah hanya karena ingin mendapatkannya dalam jumlah yang banyak. Jika anda bisa memilih dengan tepat, maka satu mainan sudah bisa memberikan mereka banyak kesenangan.

Tips

  • Orang yang tidak memahami anak autism cenderung akan memberikan hadiah menurut usianya. Anak autism berkembang pada tingkat kecepatan yang berbeda dan mungkin tidak siap untuk menerima hadiah tersebut. Jangan merasa kesal, mereka tidak bermaksud buruk, dan seharusnya hanya kelurga dan teman-teman terbaik yang diberi tahu mengenai tahap perkembangan ini. Sedangkan orang lain, simpan saja pemberian mereka di gudang sampai anak menjadi siap. Jika mainan itu sangat tidak cocok dan tidak akan pernah digunakan, berikan pada saja pada orang lain secara diam-diam.
  • Sama seperti anak-anak lain, hindari menggunakan TV sebagai alat bermain.
  • Harap dicatat bahwa sebagian anak autism sangat sensitif terhadap stimulasi, sementara yang lainnya kurang sensitif, dan sangat menyukai melukis dengan jari dan berbagai aktivitas yang menstimulasi sensornya misalnya memantul atau berputar.
  • Jangan takut untuk menyakan pada orang tua yang punya anak autism tentang hadiah yang cocok untuk anaknya. Seringkali, mereka mau memberitahu anda jenis mainan yang mungkin lebih cocok untuknya.

Tips untuk Mengajari Anak Autism Cara Membaca

Mengajari anak autism untuk bisa membaca itu bisa menjadi sebuah tugas yang sangat menantang. Sebagian anak autism tidak akan pernah bisa membaca, tapi tidak sedikit diantaranya yang bisa belajar membaca dengan baik dan pada akhirnya mampu untuk membaca dengan sempurna.

Mengajari anak autism untuk bisa membaca itu punya serangkaian kesulitan yang mengharuskan orang tua atau guru untuk banyak bersabar. Tantangan ini bisa jadi sama seperti mengajari anak yang non-autism, tapi dengan masalah yang lebih besar.

Terkadang, anak autism itu bisa sangat cooperative, tapi pada umumnya, anak autism punya kesulitan yang besar untuk mengalihkan perhatian, kurang termotivasi untuk belajar membaca, dan mereka lebih sulit untuk memahami berbagai aturan mengenai cara mengeja dan membaca dibanding anak yang  non-autism.

Belajar untuk membaca seharusnya adalah aktivitas yang menyenangkan bagi seorang anak yang normal, tapi dengan anak autism, sehingga anda harus menyesuaikan diri dengan tingkat pemahaman mereka yang berbeda agar bisa menemukan metode yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Bagi sebagian anak autism, suara adalah bagian yang penting, dan menggunakan musik sebagai sarana untuk belajar membaca adalah cara yang tepat. Di pasaran, ada banyak program yang menggunakan musik untuk membantu anda mengajari anak autism mengenai berbagai hal. Sebagian program lain juga disertai dengan permainan. Metode yang interaktif ini sangat membantu untuk menarik perhatian dan minatnya, dua hal yang jadi penghalang terbesar bagi anak autism.

Salah satu hal yang penting untuk diingat saat mengajari anak autism untuk membaca adalah bahwa aktivitas membaca itu sebagian besar membutuhkan kreativitas dalam berpikir, dan ini adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh anak autism pada umumnya.

Ini berarti bahwa saat belajar, sangat dianjurkan untuk tetap fokus dengan materi yang didasarkan pada realitas. Buku yang berisi kisah-kisah mengenai bagaimana anak-anak autism lain yang seperti mereka melewati hari-harinya mungkin bisa bahan yang menarik. Hindari kisah-kisah yang penuh dengan fantasy, misalnya kisah mengenai pangeran dan hewan yang bisa berbicara.

Siapapun yang ingin mengajari anak autism untuk membaca seharusnya ingat bahwa anak autism itu umumnya berpikir dengan cara visual. Itu berarti bahwa mereka sepertinya akan lebih cepat belajar mengenai kata dan huruf melalui stimulasi visual.

Hampir setiap anak punya ketertarikan khusus, termasuk juga anak autism. Jika mereka menyukai mobil-mobilan, maka anda mungkin ingin menggunakan mainan tersebut sebagai sarana belajar membaca. Jika mereka tertarik pada suatu subjek, maka sepertinya mereka akan memberikan lebih banyak perhatiannya, dan termotivasi untuk belajar karena tertarik dengan cerita yang ada di dalamnya.

Setiap anak itu berbeda dan akan belajar dengan cara dan sikap yang berbeda. Jangan takut untuk memanfaatkan program-program yang ada di pasaran yang didesign khusus untuk anak autism. Program-program ini dikembangkan secara khusus, baik berdasarkan pengalaman maupun penelitian. Ini bisa jadi cara yang terbaik untuk mengajari anak autism tentang cara membaca yang sepertinya tidak tertarik untuk melakukannya.

Tips Cara Mengajari Anak Autism

Guru yang baik membantu ku untuk mencapai kesuksesan. Aku mampu untuk mengatasi autism karena aku punya guru yang baik. Pada usia 2,5 tahun aku ditempatkan di sebuah sekolah khusus dengan guru-guru yang berpengalaman. Sejak usia awal, aku diajarkan untuk bersikap dan berkelakuan baik di meja makan.

Anak autism perlu memiliki hari yang terstruktur, dan guru-guru tahu cara untuk mengarahkannya dengan lembut. Antara usia 2,4 sampai 5 tahun, hari-hari ku distruktur, dan aku tidak diperbolehkan untuk mengabaikannya.

Setiap 3 kali dalam seminggu, aku harus mengikuti theraphy berbicara, dan ibuku meminta seorang pengasuh menemani aku dan saudari ku untuk bermain game selama 3 sampai 4 jam setiap hari. Dia mengajarkan aku tentang cara 'mengambil giliran' selama melakukan aktivitas bermain. Saat kami membuat bola salju, dia menyuruhku untuk melemparkan bola ke bawah, dan kemudian saudari ku harus mengambil giliran.

Pada waktu makan, semua orang makan bersama, dan aku tidak diperbolehkan untuk "memukul." Satu-satunya waktu yang diperbolehkan bagi ku untuk kembali ke perilaku autism adalah selama 1 jam setelah makan siang. Kombinasi dari sekolah khusus, speech therapy, aktivitas bermain, dan "perlaku saat makan" ini membuat otak ku bisa tetap terhubungan dengan dunia.

1. Anak autism umumnya adalah pemikir visual. Mereka berpikir melalui gambar. Dia tidak berpikir dengan bahasa. Semua pemikirannya itu seperti videotapes yang berjalan di dalam imajinasinya. Gambar adalah bahasa utama mereka, dan kata-kata adalah bahasa kedua.

Kata benda adalah kata termudah untuk dipelajari karena dengan kata tersebut anak autism bisa membuat gambar di dalam pikirannya. Untuk mengajari kata-kata misalnya "angkat" atau "letakkan", para guru seharusnya menunjukkan gerakan tersebut pada anak autism.

Sebagai contoh, gunakan sebuah mainan dan katakan "angkat" saat anda mengangkat mainan dari atas meja. Sebagian anak autism akan belajar lebih cepat jika menggunakan kartu yang bertuliskan "angkat" dan "letakkan" dan ditempel pada mainan tersebut.

Kartu yang bertuliskan "angkat" ditempelkan saat mainan diangkat. Dan kartu yang beruliskan "letakkan" ditempelkan saat mainan diletakkan.

2. Hindari kata perintah yang panjang. Anak autism punya masalah untuk mengingat urutan. Jika anak tersebut bisa membaca, maka tuliskan perintah pada secarik kertas.

Anak autism tidak bisa mengingat urutan. Jika mereka ditanya mengenai letak suatu tempat, dia cuma bisa mengingat tiga langkah. Jadi, letak dari suatu tempat yang memiliki lebih dari tiga langkah harus dituliskan.

Anak autism juga sulit untuk mengingat nomor telephone karena dia bisa membuat gambar dari nomor tersebut di dalam pikirannya.

3. Banyak anak autism yang pintar menggambar, melukis dan memprogram komputer. Bakat ini seharusnya diberikan dorongan. Perkembangan anak autism sebaiknya lebih ditekankan ke arah pengembangan bakat. Sebab, bakat tersebut bisa diubah menjadi skill yang nantinya bisa dia pergunakan.

4. Banyak anak autism yang terfokus pada satu objek misalnya kereta atau peta. Cara terbaik untuk menghadapi ini adalah dengan menggunakan objek tersebut dalam tugas-tugas sekolah.

Misalnya, jika anak autism tersebut menyukai kereta, maka gunakan kereta tersebut untuk mengajari mereka tentang membaca dan berhitung. Bacakan sebuah buku mengenai kereta dan ajari mereka berhitung menggunakan kereta.

5. Gunakan metode visual untuk mengajari mereka tentang konsep angka. Berikan anak autism mainan yang bisa membantu mereka untuk belajar mengenai angka.

Mainan ini biasanya terdiri dari satu set block dengan ukuran dan warna yang berbeda untuk masing-masing angka. Dengan mainan ini, anak autism bisa belajar cara menambah dan mengurangi.

6. Banyak anak autism yang punya kesulitan untuk mengendalikan tangannya. Untuk bisa menulis dengan rapi terkadang membuat menjadi sangat kesulitan. Ini bisa membuat mereka jadi frustasi.

Untuk mengurangi rasa frustasi dan membantu anak autism agar bisa menikmati aktivitas menulis, biarkan mereka menggunakan keyboard komputer. Mengetik seringkali jauh lebih mudah.

7. Sebagian anak autism akan belajar membaca lebih cepat dengan bantuan suara, sementara sebagian yang lain akan lebih mudah jika diminta mengingat kata. Anak autism seringkali akan belajar dengan cepat jika menggunakan flash card dan buku-buku bergambar sehingga kata-kata tersebut akan dihubungkan dengan gambar.

Sangat penting untuk menyamakan antara gambar dan kata yang tercetak di sisi kartu. Saat mengajarkan kata benda, anak autism harus mendengarkan anda berbicara dan melihat gambar serta kata yang tercetak secara bergantian.

Sebagai contoh, saat mengajarkan kata kerja  "lompat", maka anda akan melompat ke atas dan ke bawah sambil memegang kartu yang bertuliskan kata "lompat."

8. Anak autism perlu untuk dijauhkan dari suara bising. Suara yang paling sering akan menyebabkan masalah adalah suara bell sekolah, dan suara kursi yang terseret di lantai.

Dalam banyak kasus, anak autism akan mampu untuk mentoleransi suara bell jika diredam dengan kertas tissue atau lackban. Suara kursi yang terseret bisa diredam dengan menempatkan potongan bola tennis diujung kaki kursi atau dengan membentangkan karpet.

Seorang anak mungkin akan takut pada ruangan-ruangan tertentu karena dia mungkin takut menjadi terkejut oleh suara dari sumber tertentu. Ketakutan yang disebabkan suara ini bisa menyebabkan perilaku yang buruk.

Jika seorang anak autism menutupi telinganya, itu adalah tanda bahwa suara tertentu telah menyakiti telinganya.

Terkadang, sensitivitas terhadap suatu tertentu ini bisa di menimalisir dengan cara merekam suara tersebut pada tape recorder. Ini akan membuat anak autism mampu untuk mengantisipasi suara tersebut sedikit demi sedikit. Anak autism harus diberikan kebebasan untuk mengendalikan playback dari suara yang direkam tersebut.

9. Sebagian anak autism akan terganggu oleh gangguan visual dan cahaya yang menyilaukan. Ini mungkin disebabkan karena mereka bisa melihat kedipan dari 60 cycle elektris. Untuk menghindari ini, tempatkan meja anak tersebut di dekat jendela atau cobalah untuk menghindari cahaya yang menyilaukan.

Jika cahaya tidak bisa dihindari, gunakan bola lampu terbaru yang bisa anda dapat. Sebab bola lampu terbaru akan lebih jarang berkedip. Kedipan dari cahaya yang berpijar juga bisa dikurangi dengan menempatkan lampu dengan bola lampu yang kuno disebelah meja anak autism.

10. Sebagian anak autism yang hyperactive dan selalu gelisah seringkali akan menjadi tenang saat mereka dipakaikan rompi yang berat. Tekanan dari pakaian membantu mereka untuk menenangkan sistem syarafnya.

Untuk hasil yang lebih baik, rompi seharusnya digunakan selama dua puluh menit, dan kemudian dilepaskan selama beberapa menit. Ini untuk mencegah adaptasi dari sistem syaraf.

11. Sebagian anak autism akan mampu merespon, melakukan kontak mata, dan berbicara dengan lebih baik jika guru yang berinteraksi dengan mereka membiarkan mereka untuk berputar atau berguling di atas matras.

Sensor input yang berasal dari putaran atau tekanan matras terkadang membantu mereka untuk berbicara dengan lebih lancar. Berputar seharusnya selalu dilakukan sebagai permainan yang menyenangkan. Jangan pernah memaksakannya.

12. Sebagian anak autism bisa bernyanyi dengan lebih baik dibanding berbicara. Mereka merespon dengan lebih baik jika kata-kata dan kalimat tersebut dinyanyikan untuk mereka. Sebagian anak autism yang sangat sensitif terhadap suara akan merespon dengan lebih baik jika guru berbicara dengan cara berbisik.

13. Sebagian anak autism yang nonverbal tidak bisa memproses input visual dan audio secara bersamaan. Mereka bersifat mono-channel. Mereka tidak bisa melihat dan mendengar secara bersamaan.

Mereka seharusnya tidak diminta untuk melihat dan mendengar di waktu yang sama. Mereka seharusnya hanya diberikan satu tugas saja (visual atau audio) secara bergantian. Itu karena sistem syaraf mereka tidak mampu untuk memproses input visual dan audio secara simultant.

14. Pada anak autism nonverbal yang lebih dewasa, sentuhan seringkali adalah jenis komunikasi yang terbaik. Lebih mudah bagi mereka untuk merasa. Huruf terkadang bisa diajarkan dengan membiarkan mereka untuk menyentuh huruf yang terbuat dari plastik.

Mereka bisa belajar mengenai jadwal harian dengan merasakan objek selama beberapa menit sebelum melakukan aktivitas yang dijadwalkan.

Sebagai contoh, lima puluh menit sebelum anak autism makan siang biarkan dia untuk memegang sendok. Biarkan dia memegang mobil-smobilan selama beberapa menit sebelum masuk ke dalam mobil.

15. Sebagian anak autism akan lebih mudah belajar jika keyboard komputer diletakkan didekat layar monitor. Ini membuat mereka bisa melihat keyboard dan monitor secara simultant. Sebagian lagi, punya kesulitan untuk mengingat apakah mereka harus melihat monitor setelah menekan sebuah huruf di keyboard.

16. Anak autism yang nonverbal akan lebih mudah untuk menghubungkan kata dengan gambar jika mereka melihat gambar dan kata yang tercetak diatas flashcard.

Sebagian anak tidak mengerti sebaris gambar, jadi sebaiknya mulailah lebih dulu dengan objek real atau photo. Gambar dan kata-kata seharusnya berasa pada sisi yang sama dari kartu.

17. Sebagian anak autism tidak tahu bahwa berbicara itu adalah cara untuk berkomunikasi. Belajar bahasa bisa difasilitasi jika latihan bahasa memicu komunikasi. Jika anak meminta cangkir, berikan dia cangkir. Jika anak meminta piring, saat sebenarnya dia meminta cangkir, maka berikan piring.

Anak tersebut perlu untuk belajar bahwa saat dia mengucapkan kata-kata, maka hal yang kongkret akan terjadi. Akan lebih mudah bagi anak autism untuk belajar bahwa kata-kata mereka salah jika kata-kata yang salah tersebut menghasilkan objek yang salah.

18. Sebagian besar penderita autism punya kesulitan untuk menggunakan mouse komputer. Cobalah dengan roller ball (atau tracking ball) yang punya tombol terpisah untuk di klik.

Penderita autism yang punya kesulitan untuk mengontrol gerakan tangannya akan merasa sangat kesulitan untuk menahan mouse saat ingin mengklik tombolnya.

19. Anak autism yang kesulitan untuk memahami pembicaraan, akan kesulitan untuk membedakan konsonant, misalnya antara huruf 'B' dalam buku dan 'k' dalan kuku.

Meski mungkin anak tersebut telah lulus test pendengaran nada, tapi dia mungkin masih tetap sulit untuk mendengar konsonant. Anak-anak yang berbicara dengan suara vowel tidak bisa mendengar konsonant.

20. Sebagian orang tua menginformasikan bahwa mereka menggunakan pembesar caption pada televisi membantu anak-anak mereka untuk belajar membaca. Anak-anak tersebut mampu untuk membaca caption dan menyamakannya dengan ucapan.

Merekam acara favorit dengan caption juga bisa membantu sebab rekaman tersebut nantinya bisa diputar secara berulang-ulang.

21. Sebagian anak autism tidak bisa memahami bahwa mouse komputer akan menggerakkan panah yang ada dilayar monitor. Mereka mungkin akan lebih mudah untuk belajar jika sebuah kertas yang mirip dengan panah yang ada dilayar monitor ditempelkan di atas mouse.

22. Anak autism yang punya masalah dengan pemrosesan visual akan bisa melihat kedipan di layar monitor yang sejenis dengan TV. Terkadang, mereka bisa melihat dengan lebih baik di laptop dan monitor flat yang lebih jarang berkedip.

23. Anak autism yang takut pada escalator seringkali punya masalah dalam memproses visual. Mereka takut pada escalator karena tidak bisa menentukan kapan waktunya untuk naik dan kapan waktunya untuk turun. Anak ini juga mungkin tidak mampu untuk mentoleransi cahaya yang berpijar.

24. Anak autism yang punya masalah dalam memproses visual seringkali menjadi mudah untuk membaca jika huruf yang berwarna hitam dicetak pada kertas yang berwarna.

25. Mengajar anak autism secara general seringkali akan menimbulkan masalah. Untuk mengajarkan seorang anak mengenai prinsip general untuk tidak menyeberang secara sembarangan harus diajarkan pada berbagai lokasi yang berbeda.

Jika dia hanya diajarkan pada satu lokasi, maka anak tersebut akan berpikir bahwa aturan itu cuma berlaku untuk satu tempat spesifik saja.

26. Sebuah masalah umum yang sering dihadapi adalah anak autism mungkin bisa menggunakan toilet di rumah dengan benar tapi menolak untuk menggunakan toilet yang ada disekolah. Ini mungkin karena mereka tidak mengenali toilet tersebut.

Hilde de Clereq dari Belgia menemukan bahwa seorang anak autism mungkin menggunakan detail kecil yang non-relevant untuk mengenali sebuah objek, misalnya toilet. Butuh sedikit penyelidikan untuk mengetahui detail tersebut.

Dalam sebuah kasus, seorang anak cuma mau menggunakan toilet dirumah yang tempat dudukannya berwarna hitam. Orang tua dan gurunya mampu membuatnya mau untuk menggunakan toilet disekolah dengan menutupi dudukan toilet dengan plester berwarna hitam.

Setelah itu, plester ini dilepas sehingga toilet dengan tempat dudukan yang berwarna putih akan kembali dikenali sebagai toilet.

27. Anak autism sangat sulit untuk mengurutkan. Terkadang mereka tidak mengerti saat tugas yang diberikan terdiri dari serangkaian langkah.

Seorang ahli therapy sukses mengajarkan anak autism yang nonverbal untuk menggunakan perosotan di taman bermain dengan cara menuntunnya untuk berjalan menaiki tangga dan kemudian meluncur ke bawah menggunakan perosotan.

Sebuah tugas yang terdiri dari serangkaian langkah harus diajarkan dengan cara menyentuh dan menggerakkan anak tersebut, bukan sekedar dengan cara menunjukkannya.

Mengajarkan anak autism cara memakai sepatu juga bisa dengan cara seperti ini. Guru seharusnya menempatkan tangannya diatas tangan anak autism dan menggerakkan tangan anak tersebut ke atas kakinya sehingga dia bisa merasa dan memahami bentuk dari kakinya.

Langkah berikutnya adalah menuntun anak tersebut untuk merasakan sepatunya, dari dalam dan dari luar. Untuk mengajarkannya cara memakai sepatu, guru harus membimbing tangan anak tersebut ke arah sepatunya, dan dengan metode tangan-ke-tangan, mengarahkan sepatu tersebut ke arah kaki si anak.

Ini membuat anak autism bisa merasakan seluruh tugas dari memasang sepatu.

28. Rewel saat makan adalah masalah umum. Pada sebagian kasus, anak autism mungkin terpaku oleh sebuah detail untuk mengidentifikasi makanan tertentu.

Hilde de Clerq menemukan bahwa seorang anak autism cuma mau makan Chiquita bananas karena dia terpaku pada labelnya. Sedangkan buah lain misalnya apel dan jeruk mau diterimanya jika label Chiquita ditempelkan.

Jadi, cobalah untuk menempatkan makanan yang berbeda pada kotak makanan yang sama.

Alternative Treatments for Autism

As with most disorders and diseases there is always a claim from doctors that there is an alternative treatment. These claims can not go unchecked.

The doctors who have tried alternative treatments may have found success and the treatment has just not gone through proper channels to be approved. If you are a parent of an autistic child, you might want to check into alternative treatments.

If there is any chance of success or improvement in your child’s ability to communicate better or to have better social skills there is no harm in giving it a try.

One alternative treatment is the use of nalrexone. Nalrexone has had a few reports of the positive change it has made in some autistic patience.

Remember there are levels of autism and the results for one child will be just about as individualized as the disorder. Nalrexone blocks the actions of the endogenous opioids which are like the endorphins that give pleasure to the brain.

Research has shown that some autistic children have a high concentration of these endorphins in their brain. The improvements noted by observers of children with autism on nalrexone have included increased eye contact, better social skills, and reduction of clumsy behavior that could lead to self-injury.

When trying to use behavior altering drugs on an autistic child, you really have to look at the side effects associated with the medication. The side effects sometimes outweigh the benefits.

The autistic child is wired differently than most patients. The child may need higher dosages of medication that can cause dramatic changes in their liver functions or other vital organs. The medications may have to be monitored and the dosages changed to get the desired behavior changes.

More blood and lab work will have to be done to make sure that the medications are not damaging any other tissue.

The opposite might be true. People with autism have a more sensitive nervous system than most people. A lower dosage might be required, where a high dosage would overload the nervous system and have severe emotional and physical consequences.

A good indicator that your child has to high of a dose of medication is that he or she will get up earlier in the morning. If this happens consult with your doctor and reduce the dosage.

Another treatment that may be unconventional is the use of acupuncture. Even those skilled in this Chinese treatment state that autism is non-curable. They do say that when they have treated autistic children with acupuncture, the parents report slight improvement.

The acupuncturists theorize that the benefit comes from the neurons that the needles stimulate in the brain. There have been no research regarding acupuncture and autism and the only reports have been the ones from parents.

Again, most parents are looking for anything that helps and sometimes the improvements are real and sometimes they are just manifestations of false hope.

As with any new treatment, you should consult with your doctor or your team of professionals that are already assembled to help your child through treatment. Trying alternative methods and medicines alone can set up both you and your child for failure.

Difficulties of an Autistic Adult

That’s right, autistic kids grow up. This entire text has been devoted to the autistic child, but what about autistic adults? What kinds of difficulties do autistic adults have when they are in our society, at the workplace, or raising a family of their own?

Many autistic adults work, go to school, and live a semi-normal life. There are autistic professors at universities, autistic doctors, and there are some autistic adults that work at Burger King.

Remember each autistic person is an individual and has different abilities according to their autism.

One of the challenges the autistic adults have the face is assumptions about their ability to do a task. An employer or co-worker will not assign a specific work related task to an autistic adult employee because it is assumed that they cannot do the task or will not do it correctly.

 These assumptions are picked up by the autistic adult and emotional pain is felt when they are judged by their peers. They have a want and a right to try any task that is put before another peer and not be prejudged.

The world also has trouble with the autistic adult not being able to initiate a conversation or other social interaction. Most autistic adults have trouble giving eye contact and in the work place there are people that do not understand this and will be offended because of it.

Shaking hands and other social gestures are sometimes difficult for them. Some adults will even avoid using the bathroom because the interaction in a closed public restroom is to much for them to bear.

The employer should be educated on the behaviors of their autistic employee and precautions should be put in place to avoid embarrassment and miscommunication.

Hygiene is another problem for the autistic adult. Some autistic adults have a hard time combing their hair or brushing their teeth. Sensitivity in these areas cause them to avoid grooming or bathing all together.

Some avoid and some just give up. They know they have problems and after awhile it is easier to ignore them than to face them at all. Simple chores like laundry may be ignored and the employees and other adults in the workplace can make some pretty cruel comments about the cleanliness of the adult.

Eating and nutrition are sometimes a problem for the autistic adult. They will refuse any food that offends their senses or gives them a bad feeling. Sometimes they will not know how to prepare food and will eat less nutritious foods in substitute.

The act of deciding what too much food is and what is to little is another issue. Sometimes an autistic adult will gorge themselves when eating, while another individual will eat just enough to stay alive. Some autistic adults have quirks about what and how they eat.

Foods sometimes need to be separated from other foods or a mixture of foods will cause a bad reaction.

If you have an autistic child that is an adult or you are an autistic adult reading this, the only way that the uninformed public to understand what autism is and how it affects the individual is awareness and education.

Hopefully the world will learn and understand the special nature of an autistic child and adult and they can embrace the uniqueness and understand their issues.

Toilet Training the Autistic Child

Toilet training any toddler can be an adventuresome and tiring ordeal. There are many methods that have hit the markets lately and these methods can range anywhere between diapers that change color when wet to musical toilets that reward the child with music when they use the potty. This task is more difficult when your child has autism.

When communication is a problem, as with most autistic children, letting an adult know you need to use the bathroom can be almost impossible endeavor. Some autistic children reach the double digits in age before they learn to ask for and to use the toilet.

Most autistic children do not have the skill and sometimes to desire to mimic or imitate a behavior. Just because the parents are using the toilet and they demonstrate the behavior, the autistic child will refuse or not get the connection between the right or wrong of toilet training.

Most autistic children’s schedule is full and when you add something new to the schedule it usually upsets them emotionally. The addition of toilet training to their regiment could cause out right rebellion and bad behavior because they do not want to get outside of their normal daily activity.

If you are having trouble toilet training your autistic child, you might want to observe them for a few days before you try again. Watch and see if the child actually notices when they soil themselves.

Do they reposition themselves so that they are not uncomfortable after an accident?

Some autistic children feel natural in their own wastes while other will react by taking off their clothes. If your child is ignoring their soiling, consult with a doctor to see if your child has a medical condition that would prevent them from recognizing the feeling they are experiencing.

Now here is your part in toilet training. You need to relax and not stress over it. Time will make it happen and your stress and high emotion will only cause the stress of your child.

Even the most conscious parent will overreact when they have to change yet another diaper. If your child sees it’s no big deal for you, then they can relax and let the behavior come naturally.

You do have to stay diligent to get the job done thought. If your child is not toilet trained by school age, limitations may be set for opportunities for education and further socialization.

One method is to watch what your child does before they soil themselves. Write down a list of what they do and when they do it.

If you realize that your child gets up in the morning and drinks a glass of juice and twenty minutes later they soil themselves, then you have something to work with. If the child goes through the same routine, you can put the child on the toilet during the time they normally soil themselves and see what happens.

Once you get the morning soiling scheduled, add on an afternoon and evening. Pretty soon the body will work out the system even though the child does not. It is repeated, routine behavior and eventually the child will be bought in.

Does this sound like a lot of hard work? It is. Even parents of non-autistic children stress and labor over potty training their child. Each parent will give you a different bit of advice about what worked for them, but you as a parent of an autistic child know what extra you are in for.

Be patient. Try different methods and remember that you have probably never seen a teenage in pampers. It takes time and patience.

Autism and Nutritional Supplements

Autism is a terrible disorder that cripples the abilities of some parents with autistic children to reasonably discern between false hopes for cures and a research based study.

Most autistic parents have searched the internet, talked to doctors, and have read scores of literature to find help in the treatment and the cure for autism.

Their searches usually ends up fruitless because at this time there in no cure for autism. This is heart breaking news for the parents and sometimes it will send them down the road of the unconventional methods that promise the moon but only delivers more bills and the realization that the methods did not help.

One of the most notorious claims that are made today, that have duped millions into believing it, is that nutritional supplements can cure autism.

These shysters have taken the symptoms of autism like severe gastrointestinal problems and have spun tails that just by adding nutritional supplements to the diet of the autistic child the child will regain their cognitive skills and will be able to function normally. This is not true.

All you will get when giving your child nutritional supplements is a healthier autistic child. There is no miracle cure and these companies are out for the dollar not for the cure.

The Food and Drug Administration has issued a statement that: “Parents of autistic children can be desperate and provide easy targets for unproven therapies.

Marketers of dietary supplements for autistic children contend that their products promote more complete food digestion, thereby preventing neuro-toxic molecules that contribute to autism. This is a false and unsupported claim.”

To back this up there has been no founded research that backs these claims nor has any medical organization or association given even a hint of support. Even the Autistic Association of America has down played nutritional supplements as a therapy.

Educated parents in the scientific community, who have autistic children, have made a grievance with the Food and Drug Administration. They believe that the agency should not make a statement against nutritional supplements until the people who believe in them, marketers and parents alike have a say.

They have asked that a forum be open to discuss home based research and they discoveries parents have made by changing the diet of their children.

Without proven documented research the success of these parents cannot really be taken seriously by the scientific community.

The sad thing is that if there is success, the Food and Drug Administration may be swayed by the pharmaceutical industry not to act of the information unless there is formal research.

The research that has been done on the subject is very limited. After a review of three research studies, all three seem to have a slant toward the nutritional supplement industry.

The words were written in a defensive tone that pushed the supplements but gave very few actual clinical trails to the success. The data gathering method used was mostly parent surveys. There were no laboratory or scientific method guidelines that could give statistical data when correlated with a control group.

Used in a qualitative model, the opinions of parents and their observations were made the focus instead of a quantitative model which would give statistics and the actual growth or retention of growth of the autistic child.

If these supplements were to work, they would alleviate some symptoms of autism but it would not be a cure. It could be easily understood why parents see improvement. If there son or daughter shows at least a notch of improvement, in their mind the treatment works.

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme | Blogger Templates | Credit Card Offers