Apa itu Autism?

Autism adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan gangguan perkembangan yang mempengaruhi otak. Gangguan pada otak ini mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, dan merespon dunia luar dengan baik.

Orang yang menderita autism punya kecenderungan untuk mengulangi tindakan atau ketertarikannya, dan punya pola berpikir yang kaku.

Penderita autism mempunyai berbagai tingkatan. Sebagian penderita autism ini bisa berfungsi pada tingkat yang relatif tinggi, dengan kemampuan untuk berbicara dan kecerdasan yang utuh.

Sementara yang lain, punya tingkat kesulitan yang serius untuk berbicara, dan sebagian yang lain sama sekali tidak mampu berbicara.

Seorang bayi yang menderita autism mungkin akan menghindari kontak mata, seperti tuli, dan kemampuannya untuk mengembangkan bahasa dan bersosialisasi tidak berkembang.

Menurut penelitian, sekitar 20 persen anak yang menderita autism mengalami jenis kemunduran syaraf otak ini.

Anak yang menderita autism mungkin akan bertingkah seolah-olah tidak sadar akan kedatangan dan kepergian orang lain, atau melakukan serangan fisik dan melukai orang lain tanpa peringatan.

Bayi yang menderita autism seringkali tetap asyik pada satu item atau aktivitas, mengayunkan atau memukulkan tangannya, seperti tidak sensitif terhadap memar atau lecet, dan bahkan mungkin tampak sengaja untuk melukai diri sendiri.

Secara umum, gangguan ini akan mulai tampak saat anak berusia 3 tahun, meski sebagian anak di diagnosa pada usia yang lebih tua.

Anak laki-laki punya kemungkinan tiga sampai empat kali untuk menderita autism dibanding anak perempuan. Saat anak perempuan mengalami gangguan ini, mereka cenderung untuk menunjukkan gejala kerusakan yang lebih serius dan besar.

Autism terjadi pada semua ras, etnik, dan kelompok sosial. Meski penyebab autism belum diketahui, namun beberapa faktor yang dihubungkan dengan beberapa bentuk autism.

Termasuk diantaranya infeksi, metabolisme, genetik, neurological, dan faktor lingkungan misalnya diet, terekspose pada racun atau obat-obatan.

Di tahun 1940, seorang dokter di Johns Hopkins Hospital, Dr. Leo Kanner, mempelajari sekelompok anak yang terdiri 11 orang yang menderita keterbelakangan mental.

Berdasarkan karakteristik dari tingkah mereka dalam melibatkan dan menstimulasi diri, Dr. Leo Kanner menyebutnya dengan istilah infantile autism.

Sekelompok anak dengan gejala yang mirip namun lebih ringan dipelajari oleh seorang peneliti Jerman bernama Dr. Hans Asperger pada saat yang hampir bersamaan dengan Dr. Kanner.

Penderita autism yang lebih ringan ini kemudian dikenal sebagai Asperger syndrome (AS).

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme | Blogger Templates | Credit Card Offers